OUTSOURCING

Outsourcing atau alih daya merupakan proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Perusahaan diluar perusahaan induk bisa berupa vendor, koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa hanya mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non–core business unit) atau secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing. (Sumber : “Seputar Tentang Tenaga Outsourcing”, http://malangnet.wordpress.com)

Berita-berita mengenai praktek outsourcing yang terjadi di Indonesia banyak memberitakan tentang kerugian para pekerja akibat praktek outsourcing yang marak dilakukan oleh perusahaan. Kebanyakan menyebutkan bahwa tidak ada jaminan masa depan bagi para pekerja. Perkerja ada diposisi yang serba salah karena outsourching, satu sisi pekerja memang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, disisi lain tidak ada pilihan untuk menawar kontrak yang disodorkan oleh perusahaan.

Outsourcing sejauh ini menjadi cara ampuh perusahaan agar bisa menekan biaya operasional karena perusahaan tidak berhubungan langsung dengan pekerja. Jika ada pekerja yang tidak “sesuai”, maka perusahaan induk tinggal menghubungi perusahaan penyedia pekerja untuk minta diganti tanpa harus memberikan pesangon kepada pekerja yang bersangkutan, hal ini jelas sangat menguntungkan perusahaan induk dan sebaliknya sangat menyengsarakan pekerja karena para pekerja tidak memiliki kepastian akan masa depannya. Perusahaan induk seolah-olah tidak terikat dengan para pekerja, padahal pekerja tersebut bekerja dalam perusahaan. Hal seperti ini yang sering kali menyulut aksi demo yang dilakukan pekerja agar praktek outsourcing dikaji ulang agar bisa sedikit memihak para pekerja.

Berbicara mengenai praktek outsourcing  yang terjadi di Indonesia, apakah sesuai dengan konsep outsourcing itu sendiri? Menurut saya, jika dilihat dari definisi outsourcing yang telah disebutkan diatas, maka praktek outsourcing yang terjadi di Indonesia sudah bisa dikatakan sesuai dengan konsep outsourcing itu sendiri. Perusahaan induk menggunakan jasa perusahaan lain untuk menyediakan pekerja tanpa harus berhubungan atau terlibat secara langsung dengan pekerja. Secara konsep bisa dibenarkan, namun dalam prakteknya perusahaan sering memanfaatkan “kebutuhan” pekerja untuk bekerja dengan memberikan kontrak atau perjanjian yang bisa dibilang hanya menguntungkan perusahaan. Celah dimana para pekerja yang “butuh untuk bekerja” itu yang seringkali membuat para pekerja tidak memiliki pilihan lain selain menerima kontrak yang disodorkan kepada mereka tanpa bisa ditawar.

About ceritaciscus

segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku -Filipi 4:13 Rahasia kasih adalah selalu melakukan pekerjaan bagi Tuhan dan tidak merasa keberatan karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sepele. -F.W. Faber Kehendak Tuhan adalah hal yang terindah, terbaik dan paling membawa berkat yang dapat kita pahami. -Oswald Chambers

Posted on April 20, 2012, in info. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: