Teman atau “Teman”

312499_2368718629485_1596038804_32325334_1210764689_n

Sebuah pemikiran yang mungkin sudah pernah aku pikirkan, namun baru kali ini aku tuliskan. Teman atau “Teman” bisa di katakan sebagai judul atau mungkin kesimpulan dari tulisan ini.

Mari kita bongkar maksud dari istilah Teman atau “Teman”. Teman disini bisa di katakan sebagai perwakilan dari seorang teman yang sesungguhnya, sedangkan “Teman” dengan tanda kutip bisa di katakan sebagai perwakilan dari seorang kenalan. Teman yang dalam bahasa Inggris adalah friend, menurut dictionary.com memiliki arti “a person attached to another by feelings of affection or personal regard”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia sehari-hari adalah seseorang yang melekat pada orang lain dengan rasa kasih sayang atau berkaitan secara pribadi. Sedangkan kenalan yang dalam bahasa Inggris adalah acquaintance, menurut dictionary.com memiliki arti “a person known to”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia sehari-hari adalah orang yang diketahui. Cukup jelas perbedaannya antara teman dan kenalan, dua hal yang bisa aku bilang selalu ada disekitar kita. Dan mengapa disini aku menggunakan bahasa Inggris sebagai rujukan arti dari masing-masing kata, sederhana sekali jawabannya, karena bahasa Indonesia tidak memiliki banyak kosa kata, cukup sederhana bukan? hehe.

Entah mengapa aku tertarik menulis tentang hal ini, berawal dari perbincangan dengan seseorang saat makan bakso yang menurutku enak, aku terbawa ke ingatan masa lalu tentang kisah-kisah yang pernah teman-temanku alami dan bisa jadi akupun pernah mengalami juga. Perbincangan diawali tentang kisah dua orang yang aku anggap berteman, mereka mungkin terlibat perselisihan atau pertengkaran secara tersembunyi, perang dingin mungkin adalah bahasa keren-nya. Aku tidak berani menyimpulkan kondisi mereka karena aku tidak berhak untuk menjadi hakim terhadap apa yang sedang mereka alami, disini aku hanya sebagai pengamat. Seorang pengamat yang kebetulan lewat dan sedang memiliki waktu luang untuk membahas serta menuliskan hal ini.

Setiap hubungan memang tidak akan selalu berjalan dengan mulus, jangankan pertemanan, perkawinan yang katanya sudah menyatukan dua manusia berjenis kelamin berbeda dengan yang katanya janji suci saja masih bisa mengalami permasalahan, apalagi pertemanan yang tanpa embel-embel janji suci atau apapun sejenisnya. Bukan bermaksud untuk membandingkan dua jenis hubungan, namun yang ingin dibagikan adalah tidak ada hubungan antara dua manusia atau lebih yang berjalan mulus-mulus saja. Semua hubungan mungkin bisa dipastikan memiliki suatu masalah, tapi disini bukan masalahnya yang ditekankan, melainkan bagaimana masalah itu dapat diatasi. Kesanggupan untuk menyelesaikan masalah dengan baik akan membuat hubungan lebih bermakna.

Terdapat sebuah pertemanan antara dua orang yang mungkin sedang dalam situasi sulit. Saling menyerang dan saling menjatuhkan dibalik status pertemanan, namun saat bertatap muka nampak baik-baik saja. Terlihat lucu sekali perilaku orang-orang seperti itu, entah munafik, pengecut atau apapun itu adalah kata-kata yang mungkin cukup sepadan untuk mewakili tingkah laku mereka. Jika hal itu bisa terjadi dalam pertemanan, mungkin bisa diajukan satu pertanyaan kepada masing-masing dari mereka yang mengalami situasi seperti ini dalam pertemanannya, “apakah dia temanmu?”. Jika menjawab iya, mengapa bisa sampai terjadi hal seperti itu, mengapa tidak mencoba untuk diselesaikan permasalahannya. Jika menjawab tidak, mungkin perlu merubah sebutan, “dia adalah kenalanku”, dan hal ini akan menjadi lebih mudah untuk dipahami.

Teman berbeda dengan kenalan, perbedaan paling mudah bisa terlihat dari arti kedua kata tersebut. Jika ingin menggunakan bahasa yang lebih filosofis, mungkin bisa dijelaskan sebagai berikut, “seorang teman butuh beberapa saat untuk mengetahui bahwa anda sedang sedih, namun seorang kenalan butuh waktu jauh lebih lama untuk dapat mengetahuinya”. Cukup filosofis bukan?

Ketika memiliki teman, mungkin akan seperti biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial, hal itu terjadi mungkin karena terlalu sering dialami, entah itu benar-benar memiliki teman atau hanyalah “teman”. Teman yang sesungguhnya adalah seorang yang bisa dikatakan berharga bagi diri kita, boleh setuju atau tidak, terserah anda. Berharga karena kita rela menggunakan waktu kita untuk bersama dengan teman kita, berharga karena banyak hal yang telah dan bisa dilalui bersama, berharga karena dia adalah teman kita.

Disini aku tidak mengajak untuk melihat kepada teman-teman di sekeliling kita, apakah mereka adalah teman kita atau “teman” kita. Melalui tulisan ini aku mencoba mengajak kita untuk lebih melihat kepada diri kita sendiri, apakah aku adalah seorang teman ataukah aku hanyalah seorang “teman”. Belajar untuk rendah hati dan saling memahami serta menerima satu dengan yang lain adalah beberapa kunci dari banyak sekali kunci untuk menjaga pertemanan agar tetap sehat. Ada di posisi manakah diri kita? Teman atau “Teman”, hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya.

About ceritaciscus

segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku -Filipi 4:13 Rahasia kasih adalah selalu melakukan pekerjaan bagi Tuhan dan tidak merasa keberatan karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sepele. -F.W. Faber Kehendak Tuhan adalah hal yang terindah, terbaik dan paling membawa berkat yang dapat kita pahami. -Oswald Chambers

Posted on Desember 10, 2012, in ceritaciscus. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: